NuR_AuRoRa’s Blog

WeLcoMe to My NiCe Z0ne

Cinta Perempuan Paling Cantik

Filed under: Karya Sastra Islami — echamyutz at 11:32 am on Wednesday, February 4, 2009

Cinta Perempuan Paling Cantik

 

Dia adalah perempuan paling cantik yang pernah saya kenal. Kulitnya putih, wajahnya bersih seperti bayi, kecantikannya lengkap. Dia adalah perempuan terindah yang pernah saya temui. Kecantikan yang tidak pudar, meski usianya mencapai empat puluh lima.

      Dua puluh lima tahun yang lalu, perempuan itu mengejutkan semua orang dengan pernikahan yang tiba-tiba. Tidak ada yang menyangka cinta kanak-kanak sang perempuan akan bermuara selamanya, kepada lelaki yang sama.

      Pernikahan yang indah. Lelaki yang beruntung. Begitulah barangkali pikiran kebanyakan orang. Sebab dengan kecantikan sang perempuan, akan sulit menemukan lelaki yang benar-benar layak bersanding dengannya. Secara panampilan tentu saja.

      Waktu bergulir. Selama itu tidak pernah sekalipun terdengar berita tidak sedap dari pasangan, yang kini sudah dikaruniai dua orang anak. Semua takjub dengan keutuhan rumah tangga keduanya. Pertama, karena dibina ketika mereka masih sangat muda, kedua mengingat kesibukan sang istri yang kini menjadi dosen dan kerap memberi materi seminar. Seringnya berada di depan publik tanpa suami, yang diduga akan menimbulkan jarak diantara suami istri itu, sama sekali tidak terbukti.

      Sesekali mereka tampil berdua. Dan siapapun akan mengagumi rumah tangga keduanya. Cukup banyak lelaki yang meski hanya bercanda, sempat mengungkapkan keirian terhadap nasib baik si suami.

      “Istri cantik, rumah besar, anak-anak lucu. Komplit!”

      Lainnya mengomentari, “Kalau punya istri secantik itu, saya gak bakal kemana-mana. Keluar rumah juga males deh!”

      Sebagai perempuan yang hanya melihat semua dari luar, saya pribadi mengagumi kemampuan sang istri memenej rumah tangganya. Mengagumi betapapun kesibukannya menggunung, perempuan itu tak pernah menelantarkan keluarganya. Suami dan anak-anak senantiasa nomor satu.

      Kekaguman saya yang lain adalah terhadap kemampuan si perempuan mengurus dirinya. Kecantikannya tidak pernah berkurang, malah semakin bercahaya seiring umur yang bertambah.

      Dalam balutan kerudung, dan kemana-mana nyaris tanpa make-up, keindahannya semakin memesona. Saya salut dengan kemampuannya menjaga diri dan menepis gosip tentang rumah tangga mereka.

      Ketika kemudian sang suami mulai sakit-sakitan , sang istri dengan cepat mengambil alih tanggung jawab ekonomi keluarga. Mulai dari kebutuhan sahari-hari hingga biaya sekolah anak-anak, bahkan ongkos pengobatan sang suami yang menghabiskan dana dalam jumlah besar.

      Adakah kesombongan di wajah cantiknya?

      Demi Allah, saya tidak pernah melihat hal itu tebersit sedikit saja di wajahnya yang indah.

      Sosok cantik itu tetap santun dan tak banyak bicara. Meladeni suami dan anak-anak seperti hari-hari sebelumnya. Menunaikan tugas-tugasnya di depan publik tanpa keluh kesah sama sekali. Tanpa ungkapan rasa letih, karena sang suami yang lima tahun terakhir ini nyaris tak mampu bekerja untuk keluarga, disebabkan penyakit yang dideritanya.

      Batin saya, pastilah lelaki itu demikian baik dan bakti kepada keluarga, hingga istrinya mencintai dan membela keluarga mereka sedemikian rupa.

      Tapi kalimat yang suatu hari saya dengar dari famili perempuan terindah itu, mengguncangkan hati saya.

      “Kalau saja semua orang tahu, kasihan kakak itu. Suaminya seringkali main perempuan di belakang dia. Dari mulai pertama nikah. Tingkahnya benar-benar bikin makan hati. Keluarga besar sempat menyuruh cerai, tapi sang kakak memang luar biasa sabar!”

      Hati saya berdetak.

      Allah, jika itu benar. Berkatilah perempuan yang setia itu ya Allah.

Perempuan yang telah menjaga kehormatan suaminya, bahkan di atas begitu banyak luka, yang telah ditorehkan lelaki itu padanya.

      Saya pribadi tidak tahu kebenaran berita itu. Sebab saya tak berani menanggapi. Hanya saja saya tiba-tiba mulai menikmati, tak hanya kecantikan dan keindahan luar yang Allah karuniakan kepadanya. Tapi juga sekeping hati yang luar biasa cantiknya.

 

(Asma Nadia)

Kalau Saya Jatuh Cinta Lagi

Filed under: Karya Sastra Islami — echamyutz at 11:28 am on Wednesday, February 4, 2009  Tagged

Kalau Saya Jatuh Cinta Lagi

 

Santai, santun meski ceplas ceplos. Begitulah kesan saya tentang Pak Haris. Pimpinan sebuah penerbitan di Solo yang saya temui dalam satu kesempatan.

      Saya lupa bagaimana awalnya hingga Pak Haris menyinggung poligami. Kebetulan saya tertarik dengan persoalan ini, dan sedang menulis sebuah novel bertema poligami yang penggarapannya sangat menyita energi.

      Saya ingin mendalami pikiran laki-laki. Sebenarnya apa yang ada di kepala mereka ketika menikah lagi? Awalnya saya kira seperti lelaki lain, Pak Haris akan mengelak atau memberi jawaban ala kadar. Ternyata…

      “Sejujurnya Mbak Asma, hanya ada satu alasan inti kenapa laki-laki menikah lagi.”

      Saya dan seorang teman saat itu langsung menyimak baik-baik.

      “Dan itu bukan karena menolong, bukan karena kasihan, atau alasan lain. Saya lelaki. Dan kalau saya menikah lagi itu murni karena saya suka dengan gadis itu. Saya jatuh cinta. Titik.”

      Wah, jujur sekali. Pikir saya salut.

      Dialog yang berawal di rumah makan berlanjut ke dalam mobil. Saya dan teman memang bekerja di penerbitan yang dikelola Pak Haris kemudian mengunjungi penerbitan beliau. Saya diperkenalkan kepada beberapa pegawai dan juga produk-produk mereka.

      Di sofa tamu, obrolan berlanjut lagi.

      “Sebenarnya Ramadhan kemarin saya tergoda sekali untuk menikah lagi. Sungguh keinginan itu dating begitu dahsyatnya.”

      “Padahal Ramadhan ya, Pak?”

      Lelaki itu tertawa, mengiyakan.

      “Dan saya kira saya hamper saja berpoligami, kalau saja saya tidak bertemu seorang teman. Ikhwan yang memberi satu pertanyaan yang luar biasa benardan akhirnya berhasil mengubah niat saya.”

      Dalam hati saya menebak-nebak kemana penjelasan Pak Haris selanjutnya.

      “Ikhwan itu berkata begini, Mbak Asma… Jika saya menikah lagi: Pertama, kebahagiaan dengan istri kedua belum tentu… karena tidak ada jaminan untuk itu. Apa yang diluar keliatan bagus, dalamnya belum tentu. Hubungan sebelum pernikahan yang sepertinya indah, belum tentu akan terealisasi indah. Dan sudah banyak kejadian seperti itu.”

      Benar sekali, komen saya dalam hati.

      “Yang kedua, Pak?”

      Lelaki itu terdiam, lalu menatap saya dengan pandangan serius.

      “Sementara luka hati istri pertama sudah pasti, dan itu akan abadi.”

      Saya melihat Pak Haris menarik napas panjang, sebelum menuntaskan kalimatnya,

      “Sekarang, bagaimana saya melakukan sebuah tindakan untuk keuntungan yang tidak pasti, dengan mengambil resiko yang kerusakannya pasti dan permanen?”

      Dialog di atas terjadi bertahun-tahun lalu. Saya tidak tahu bagaimana kabar Pak Haris sekarang, apakah masih berpegang pada masukan si ikhwan itu atau tidak.

      Saya sendiri menerima aturan poligami yang memang ada dalam Qur’an, tetapi cenderung menyetujui pendapat seorang ustadz muda yang mengatakan asal syari’at poligami pada dasarnya adalah monogamy. Artinya dalam keadaan normal, monogamy tetap lebih utama.

      Betapa pun, sungguh saya iri terhadap para istri yang sanggup mengikhlaskan suaminya menikah lagi. Hal yang tentu teramat sulit. Bagaimana bisa berbagi pasangan hati yang selama bertahun-tahun hanya menumpukan perhatian pada kita sebagai satu-satunya istri?

      Rasa iri tadi sering ditambah dengan kesedihan yang luar biasa, saat menyadari betapa mudahnya lelaki kemudian melalaikan tanggung jawab bahkan sampai menelantarkan istri pertama dan anak-anaknya.

      Untuk kebahagiaan yang belum pasti?

      Teringat seorang teman asal Malaysia yang saya temui di Seoul. Lelaki yang dengan lantang menerangkan statusnya, ketika ditanyakan berapa anak yang Allah telah karuniakan kepadanya,

      “Dari istri pertama ada tiga. Dari istri kedua belum ada…”

      Barangkali karena merasa bertemu dengan muslim di negeri yang sebagian besar penduduknya non muslim itu, hingga dia menjadi terbuka kepada saya. Apalagi setelah saya katakana bahwa saya seorang penulis.

      Pernikahan kedua itu tidak pernah direncanakan.

      “Ini takdir,” katanya, “Saya tidak pernah sengaja mencari istri lain.”

      Saya diam saja. Tidak hendak berdebat soal itu.

      Hanya setelah saya tanyakan kerepotan memiliki dua istri ceritanya semakin menarik. Terakhir saya tanyakan apakah dia merasa lebih bahagia setelah menikah lagi?

      Mendengar pertanyaan saya, lelaki bertubuh tinggi itu tampak termenung cukup lama sebelum menjawab,

      “Yang sudah terjadi, tidak bolehlah kita sesali.”

      Menatap senyum getir lelaki itu, seketika ingatan saya terlempar pada kalimat terakhir Pak Haris, beberapa tahun lalu.

 

(Asma Nadia)